Ya Allah ...
Dia telah membuatku mengerti arti cinta ....
dia telah mambuatku belajar dari kesalahan ....
dia pun telah membuat ku mengerti arti arti sebuah kesetiaan ...
walaupun keadaan sudah tak seperti dulu , tp aku masih berharap bahwa Engkau akn mempertemukan n mempersatukan kembali Aku dan Dia....
Rabu, 21 Desember 2011
Minggu, 11 Desember 2011
Haruskah Ku Bilang CINTA.?
Haruskah ku Bilang CINTA.?
Hati Senang...
NAmun Bimbang...
Ada cemburu juga Rindu ...
Ku tetap MENUNGGU....
Hati Senang...
NAmun Bimbang...
Ada cemburu juga Rindu ...
Ku tetap MENUNGGU....
Minggu, 04 Desember 2011
Disunnahkan Puasa Asyura Tanggal 9 dan 10 Muharram
Puasa selain merupakan ibadah yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengandung sekian banyak manfaat yang lain. Dengan berpuasa seseorang dapat mengendalikan syahwat dan hawa nafsunya. Dan puasa juga menjadi perisai dari api neraka. Puasa juga dapat menghapus dosa-dosa dan memberi syafaat di hari kiamat. Dan puasa juga dapat membangkitkan rasa solidaritas kemanusiaan, serta manfaat lainnya yang sudah dimaklumi terkandung pada ibadah yang mulia ini.
Pada bulan Muharram ada satu hari yang dikenal dengan sebutan hari ‘Asyura. Orang-orang jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ini. Hal tersebut karena pada hari ini Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Bersyukur atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, Nabi Musa ‘alaihissalam akhirnya berpuasa pada hari ini. Tatkala sampai berita ini kepada Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wassalam, melalui orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah beliau bersabda,
Yang demikian karena pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sampai di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah berpuasa pada hari ini, maka beliau sampaikan sabdanya sebagaimana di atas. Semenjak itu beliau Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan ummatnya untuk berpuasa, sehingga jadilah puasa ‘Asyura diantara ibadah yang disukai di dalam Islam. Dan ketika itu puasa Ramadhan belum diwajibkan.
Adalah Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhu yang menceritakan kisah ini kepada kita sebagaimana yang terdapat di dalam Shahih Bukhari No 1900,
Dan dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan,
Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini. Oleh karena itu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya pada satu kesempatan tentang puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan, beliau menjawab bulan Allah Muharram. Dan Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
Dan puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu
Para ulama berpendapat perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam , “…aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”, mengandung kemungkinan beliau ingin memindahkan puasa tanggal 10 ke tanggal 9 Muharram dan beliau ingin menggabungkan keduanya dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura. Tapi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ternyata wafat sebelum itu maka yang paling selamat adalah puasa pada kedua hari tersebut sekaligus, tanggal 9 dan 10 Muharram.
Dan Al Imam Asy-Syaukani dan Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan puasa ‘Asyura ada tiga tingkatan. Yang pertama puasa di hari ke 10 saja, tingkatan kedua puasa di hari ke 9 dan ke 10 dan tingkatan ketiga puasa di hari 9,10 dan 11.
فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ
“Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi)”.Yang demikian karena pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sampai di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah berpuasa pada hari ini, maka beliau sampaikan sabdanya sebagaimana di atas. Semenjak itu beliau Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan ummatnya untuk berpuasa, sehingga jadilah puasa ‘Asyura diantara ibadah yang disukai di dalam Islam. Dan ketika itu puasa Ramadhan belum diwajibkan.
Adalah Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhu yang menceritakan kisah ini kepada kita sebagaimana yang terdapat di dalam Shahih Bukhari No 1900,
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Tatkala Nabi Shallallahu’alaihi wasallam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari ini. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. [HR Al Bukhari]Dan dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. [HR Al Bukhari No 1897]Keutamaan puasa ‘Asyura di dalam Islam.
Di masa hidupnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berpuasa di hari ‘Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnya. Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata,مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ
“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini. Oleh karena itu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya pada satu kesempatan tentang puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan, beliau menjawab bulan Allah Muharram. Dan Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.Dan puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu
وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ
“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.Hukum Puasa ‘Asyura
Sebagian ulama salaf menganggap puasa ‘Asyura hukumnya wajib akan tetapi hadits ‘Aisyah di atas menegaskan bahwa kewajibannya telah dihapus dan menjadi ibadah yang mustahab (sunnah). Dan Al Imam Ibnu Abdilbarr menukil ijma’ ulama bahwa hukumnya adalah mustahab.Waktu Pelaksanaan Puasa ‘Asyura
Jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari ‘Asyura adalah hari ke-10 di bulan Muharram. Di antara mereka adalah Said bin Musayyib, Al Hasan Al Bashri, Malik, Ahmad, Ishaq dan yang lainnya. Dan dikalangan ulama kontemporer seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah. Pada hari inilah Rasullah Shallallahu’alaihi wasallam semasa hidupnya melaksanakan puasa ‘Asyura. Dan kurang lebih setahun sebelum wafatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ
“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”Para ulama berpendapat perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam , “…aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”, mengandung kemungkinan beliau ingin memindahkan puasa tanggal 10 ke tanggal 9 Muharram dan beliau ingin menggabungkan keduanya dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura. Tapi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ternyata wafat sebelum itu maka yang paling selamat adalah puasa pada kedua hari tersebut sekaligus, tanggal 9 dan 10 Muharram.
Dan Al Imam Asy-Syaukani dan Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan puasa ‘Asyura ada tiga tingkatan. Yang pertama puasa di hari ke 10 saja, tingkatan kedua puasa di hari ke 9 dan ke 10 dan tingkatan ketiga puasa di hari 9,10 dan 11.
Kamis, 01 Desember 2011
Tautan Hati Ku
Dalam mencari sebuah hikayat cinta
Hati yang tulus murni amat sukar ditemui
Sukar mencari jiwa yang menerima seadanya
Cinta manusia hanyalah pinjaman di duniawi
Cinta ILAHI jualah yang kekal selamanya
Hanya insan terpilih akan memiliki cinta sejati di uhkrawi…
Hadirkanlah dalam cerita hidupku
Seorang insan bernama teman
Yang sentiasa berada di dalam doaku
Bersama diriku menempuh onak perjuangan
Rela sehidup semati dalam pimpinan agamaMu
Agar dapat merasakan kemanisan iman…
Temukanlah aku dengan cinta yang mencintaiMu
Cintakanlah hatiku dengan cinta yang merindui syahid fisabilillah
Bukan cinta yang berlandaskan hawa nafsu
Kerana syaitan akan menjadi pemisah
Antara cinta hakiki dan cinta palsu
Yang hanya menyebabkan hati terbelah dan berpecah…
Berilah hatiku kekuatan dan ketabahan
Dalam mencari cinta seorang insan
Bersenjatakan kekebalan iman
Berperisaikan doa dan kesabaran
Dalam mengahadapi dunia yang penuh kepura-puraan
Menjadi sebuah permainan hidup yang mensia-siakan…
Satukanlah hatiku ini dengan sekeping hati murni
Yang membawa aku ke arah jalan kebenaran ILAHI
Yang bisa menjadi bukti lafaz cinta suci
Pada pandangan ALLAHURABBI
Agar berkekalan hingga ke syurga abadi
Dan berbahagia di taman indah firdausi…
Bisakah dicari dalam dunia yang fana’ ini
Seorang teman hidup idaman hati
Yang memiliki keteguhan iman yang tinggi
Dan mempunyai hati yang tulus suci
Serta kaya dengan budi pekerti dan akhlak terpuji
Dalam menghulurkan cinta sejati???
Semoga cinta yang sejati akan ku temui
Semoga hari itu akan menjadi saksi
Pertemuan dua hati murni di hadapan ILAHI
Di depan pintu gerbang syurga hakiki dan abadi…
Sabar Pertama, Syukur Konsisten
Hidup tak selamanya ceria
Teman tak selamanya gembira
Kita tak selamanya benar
Kita tak selamanya sukses
Orang lain bisa sengaja menyakiti
Bisa juga tak sengaja
Orang lain bisa sengaja merendahkan
Bisa juga tak sengaja
Ketika waktu itu tiba
Tetap tersenyum
Tetap sabar
Ujian sedang berjalan
Ruang ujian sedang dipenuhi pengawas
Melihat apa reaksi kita
Melihat kesungguhan kita
Melihat pilihan-pilihan kita
Akankah kita lulus?
Atau lagi-lagi harus mengulang?
Akankah nilai kita A?
Atau lagi-lagi C bahkan E?
Tahan semua kesalmu
Tahan semua sedihmu
Tahan semua amarahmu
Tahan semua deritamu
Bangkit, berpikir, cari solusi
Tetap tegak dan pilih reaksi
Tetap tersenyum walaupun matamu panas
Tetap sabar walaupun hatimu terbakar
Semua kejadian tidak lepas dari izin Allah
Kalau kita sedih, bisa jadi artinya kita sedih dengan pilihan Allah
Kalau kita marah, bisa jadi artinya kita marah dengan pilihan Allah
Kalau kita kesal, bisa jadi artinya kita kesal dengan pilihan Allah
Lihat sisi baiknya
Sesulit apa pun kita mencarinya
Karena ia pasti ada
Allah sudah siapkan itu untuk kita
Kritik bisa saja disampaikan dengan pedas
Kita bisa saja menuntut cara penyampaian yang lebih baik
Tapi Allah sudah tetapkan demikian
Maka tentu itulah cara yang paling tepat buat kita menurut Allah
Bahwa orang lain melakukan kesalahan dalam berlaku pada kita
Biarlah itu menjadi urusannya dengan Allah
Tak usah urus urusan orang lain
Doakan, itu jauh lebih baik
Tetap semangat
Jangan menyerah
Paralel sabar dan syukur
Carilah hikmah
Jadikan sabar reaksi pertamamu
Jadikan syukur reaksi konsistenmu
Ingat Allah dalam setiap pilihanmu
Maka masalah hidup akan senantiasa menjadi ruang ujian dan tantangan kreasimu
Mengalah
Tiada pamrih
Tiada ingin penghargaan
Kedamaian
Pandang kritik dengan obyektif
Abaikan cara penyampaian
Abaikan cara penyampaian
Catat masukan dan lakukan perbaikan
Bukan saatnya memberikan justifikasi
Bukan saatnya memberikan pembenaran
Bukan saatnya melakukan perdebatan
Terimalah masukan dan buatlah perbaikan
Bukan saatnya berdalih dengan ketidaksempurnaan
Perbaikan selalu bisa dimulai
Yang perlu dilakukan hanyalah menanggalkan ego
Bahwa memang kita perlu perbaikan
Tak usah menuntut orang lain
Cukuplah kita yang melalui ujian
Biarlah Allah yang buatkan ujian buat mereka
Doakan saja yang baik, Allah akan kabulkan juga buat kita nantinya
Teman tak selamanya gembira
Kita tak selamanya benar
Kita tak selamanya sukses
Orang lain bisa sengaja menyakiti
Bisa juga tak sengaja
Orang lain bisa sengaja merendahkan
Bisa juga tak sengaja
Ketika waktu itu tiba
Tetap tersenyum
Tetap sabar
Ujian sedang berjalan
Ruang ujian sedang dipenuhi pengawas
Melihat apa reaksi kita
Melihat kesungguhan kita
Melihat pilihan-pilihan kita
Akankah kita lulus?
Atau lagi-lagi harus mengulang?
Akankah nilai kita A?
Atau lagi-lagi C bahkan E?
Tahan semua kesalmu
Tahan semua sedihmu
Tahan semua amarahmu
Tahan semua deritamu
Bangkit, berpikir, cari solusi
Tetap tegak dan pilih reaksi
Tetap tersenyum walaupun matamu panas
Tetap sabar walaupun hatimu terbakar
Semua kejadian tidak lepas dari izin Allah
Kalau kita sedih, bisa jadi artinya kita sedih dengan pilihan Allah
Kalau kita marah, bisa jadi artinya kita marah dengan pilihan Allah
Kalau kita kesal, bisa jadi artinya kita kesal dengan pilihan Allah
Lihat sisi baiknya
Sesulit apa pun kita mencarinya
Karena ia pasti ada
Allah sudah siapkan itu untuk kita
Kritik bisa saja disampaikan dengan pedas
Kita bisa saja menuntut cara penyampaian yang lebih baik
Tapi Allah sudah tetapkan demikian
Maka tentu itulah cara yang paling tepat buat kita menurut Allah
Bahwa orang lain melakukan kesalahan dalam berlaku pada kita
Biarlah itu menjadi urusannya dengan Allah
Tak usah urus urusan orang lain
Doakan, itu jauh lebih baik
Tetap semangat
Jangan menyerah
Paralel sabar dan syukur
Carilah hikmah
Jadikan sabar reaksi pertamamu
Jadikan syukur reaksi konsistenmu
Ingat Allah dalam setiap pilihanmu
Maka masalah hidup akan senantiasa menjadi ruang ujian dan tantangan kreasimu
Mengalah
Tiada pamrih
Tiada ingin penghargaan
Kedamaian
Pandang kritik dengan obyektif
Abaikan cara penyampaian
Abaikan cara penyampaian
Catat masukan dan lakukan perbaikan
Bukan saatnya memberikan justifikasi
Bukan saatnya memberikan pembenaran
Bukan saatnya melakukan perdebatan
Terimalah masukan dan buatlah perbaikan
Bukan saatnya berdalih dengan ketidaksempurnaan
Perbaikan selalu bisa dimulai
Yang perlu dilakukan hanyalah menanggalkan ego
Bahwa memang kita perlu perbaikan
Tak usah menuntut orang lain
Cukuplah kita yang melalui ujian
Biarlah Allah yang buatkan ujian buat mereka
Doakan saja yang baik, Allah akan kabulkan juga buat kita nantinya
Selasa, 08 November 2011
Ibu bapak Menurut al-Sunnah.
Ketiga: Ibu Lebih Utama Berbanding Ayah.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anh berkata:
Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya:
“Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layan dengan sebaik-baiknya?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ayah kamu.”[1]
Seorang sahabat bernama Jahimah radhiallahu ‘anh datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta pandangan baginda untuk dia ikut serta dalam ekspedisi Jihad.
Rasulullah bertanya: “Adakah kamu masih mempunyai ibu?”
Jahimah menjawab: “Ya.”
Lalu Rasulullah bersabda:
“Tinggallah bersamanya kerana sesungguhnya syurga terletak di bawah tapak kakinya.”[2]
Di antara ibu dan ayah, ibulah yang lebih berhak untuk menerima perhatian daripada seorang anak. Tidak sekadar itu, ibu memiliki hak tiga kali ganda lebih besar daripada seorang ayah sepertimana terbukti melalui hadis di atas. Syurga juga terletak di bawah kaki ibu, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis kedua di atas. Selain itu Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga telah mengkhususkan beberapa ayat-Nya di dalam al-Qur’an untuk ibu. Ini tidak lain menunjukkan betapa besar dan mulia kedudukan ibu di sisi Allah dalam peranannya melahirkan anak dan membesarkannya.[3] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya), dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibubapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan). [Luqman 31:14]
Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung susah payah dan telah melahirkannya dengan menanggung susah payah. [al-Ahqaf 46:15]
Terdapat beberapa sebab mengapa ibu memiliki hak tiga kali ganda lebih besar daripada seorang ayah:
Berkenaan kesusahan yang amat berat saat hendak melahirkan, Abi Burdah radhiallahu ‘anh pernah melihat Ibn ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dan seorang lelaki dari Yaman sedang tawaf di sekeliling Ka’bah.
Lelaki tersebut sedang mendukung ibunya lalu mengeluh: “Saya baginya bagaikan tunggangan yang hina.”
Lalu dia bertanya: “Wahai Ibn ‘Umar! Apakah sudah aku balas budinya?”
Ibn ‘Umar menjawab: “Tidak! Walaupun setarik nafasnya (yakni ketika ibunya sedang melahirkannya).”[4]
4. Setelah melahirkan, ibu benar-benar memberi perhatian kepada anaknya. Seandainya anaknya tidak
sihat atau hilang sekejap daripada perhatiannya, nescaya dia menjadi bimbang. Apatah lagi jika anaknya dijauhkan daripadanya, seorang ibu akan teramat berdukacita sehingga hatinya menjadi kosong, sehinggalah anaknya dikembalikan kepadanya.
Kenalilah perhatian seorang ibu terhadap anaknya berdasarkan kisah berikut daripada al-Qur’an, ketika Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintah ibu Musa untuk menghanyutkan anaknya (Musa) agar dia (Musa) tidak ditangkap dan dibunuh oleh Fir’aun:
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susukanlah dia; dalam pada itu jika engkau takutkan sesuatu bahaya mengenainya (dari angkara Firaun), maka (letakkanlah dia di dalam peti dan)
lepaskanlah dia ke laut; dan janganlah engkau merasa bimbang dan jangan pula berdukacita; sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan Kami akan melantiknya menjadi salah seorang daripada Rasul-rasul Kami.
Setelah itu dia (Musa) dipungut oleh orang-orang Firaun; kesudahannya dia akan menjadi musuh
dan menyebabkan dukacita bagi mereka; sesungguhnya Firaun dan Haman serta orang-orangnya
adalah golongan yang bersalah.
Dan (ketika melihat kanak-kanak itu) berkatalah isteri Fir’aun:
“(Semoga dia menjadi) cahaya mata bagiku dan bagimu; janganlah kamu membunuhnya;
mudah-mudahan dia berguna kepada kita atau kita jadikan dia anak.”
Padahal mereka tidak menyedari (kesudahannya).
Dan (sepeninggalannya) menjadilah hati ibu Musa kosong; sesungguhnya dia nyaris-nyaris menyatakan perihal anaknya itu dengan berterus-terang jika tidaklah Kami kuatkan hatinya (dengan perasaan sabar dan tenang tenteram), supaya tetaplah dia dari orang-orang yang percaya (akan janji Allah).
Dan berkatalah dia kepada kakak Musa:
“Pergilah cari khabar beritanya.” (Maka pergilah dia) lalu dilihatnya dari jauh
sedang orang ramai tidak menyedarinya.
Dan Kami jadikan dia (Musa) dari mulanya enggan menyusu kepada perempuan-perempuan yang hendak menyusukannya; (melihatkan halnya itu), kakaknya berkata (kepada isteri Fir’aun):
“Mahukah aku tunjukkan kamu kepada penduduk sebuah rumah yang dapat memeliharanya untuk kamu, serta mereka tulus ikhlas kepadanya?”
Maka (dengan jalan itu) Kami kembalikan dia kepada ibunya supaya tenang tenteram hatinya
dan tidak berdukacita (disebabkan bercerai dengannya); dan supaya dia mengetahui bahawa janji Allah (untuk menyelamatkannya) adalah benar; akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui
(yang demikian itu). [Maksud surah al-Qasas 28:7-13]
5. Sekalipun dengan segala pengorbanan ibu daripada saat mengandung hinggalah kepada membesarkan,
seorang anak lazimnya akan lebih cenderung untuk meremehkan ibunya berbanding ayahnya. Faktor penyebab adalah sama ketika menjelaskan bab sebelum ini berkenaan mengapa ibu dikhususkan daripada ayah dalam larangan menderhaka. Sifat kewanitaan seorang ibu yang lemah lembut dan peranannya yang “hanya di rumah” menyebabkan sebahagian anak-anak tidak menghormati ibu mereka dan justeru melecehkan tuntutan berbuat baik kepadanya.
Lima sebab di atas, paling kurang, menjelaskan mengapa Allah dan Rasul-Nya mengkhususkan seorang ibu di atas seorang ayah. Malah hadis yang asal dalam perbincangan ini memberi hak tiga kali ganda lebih besar kepada seorang ibu berbanding seorang ayah. Oleh itu dalam rangka berbuat baik kepada ibubapa, hendaklah kita memberi perhatian dan keutamaan kepada ibu.
Mengambil iktibar daripada kisah para sahabat Rasulullah, seorang lelaki pernah bertanya kepada Ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Saya meminang seorang wanita tetapi dia menolak pinangan aku. Setelah itu datang orang lain meminangnya lalu dia menerimanya. Saya menjadi cemburu kepadanya dan saya membunuhnya. Apakah ada taubat untuk saya?”
Ibn ‘Abbas bertanya: “Apakah ibu kamu masih hidup?”
Dia menjawab: “Tidak.”
Ibn ‘Abbas berkata: “Bertaubatlah kepada Allah dan mendekatlah kepada-Nya semampu mungkin.”
Atha’ bin Yasar (yang hadir sama saat itu) bertanya kepada Ibn ‘Abbas: “Mengapa engkau bertanya kepada lelaki tersebut sama ada ibunya masih hidup?”
Ibn ‘Abbas menjawab: “Saya tidak tahu perbuatan yang paling mendekatkan (seseorang) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan berbakti kepada ibu.”
Abu Hurairah radhiallahu ‘anh berkata:
Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya:
“Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layan dengan sebaik-baiknya?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ayah kamu.”[1]
Seorang sahabat bernama Jahimah radhiallahu ‘anh datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta pandangan baginda untuk dia ikut serta dalam ekspedisi Jihad.
Rasulullah bertanya: “Adakah kamu masih mempunyai ibu?”
Jahimah menjawab: “Ya.”
Lalu Rasulullah bersabda:
“Tinggallah bersamanya kerana sesungguhnya syurga terletak di bawah tapak kakinya.”[2]
Di antara ibu dan ayah, ibulah yang lebih berhak untuk menerima perhatian daripada seorang anak. Tidak sekadar itu, ibu memiliki hak tiga kali ganda lebih besar daripada seorang ayah sepertimana terbukti melalui hadis di atas. Syurga juga terletak di bawah kaki ibu, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis kedua di atas. Selain itu Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga telah mengkhususkan beberapa ayat-Nya di dalam al-Qur’an untuk ibu. Ini tidak lain menunjukkan betapa besar dan mulia kedudukan ibu di sisi Allah dalam peranannya melahirkan anak dan membesarkannya.[3] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya), dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibubapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan). [Luqman 31:14]
Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung susah payah dan telah melahirkannya dengan menanggung susah payah. [al-Ahqaf 46:15]
Terdapat beberapa sebab mengapa ibu memiliki hak tiga kali ganda lebih besar daripada seorang ayah:
- Ibu terpaksa menanggung pelbagai kesusahan, sama ada dari sudut fizikal mahupun mental, dalam proses mengandung seorang anak. Allah mengkhabarkan kesusahan ini dengan firman-Nya yang bermaksud: “…ibunya telah mengandungnya dengan menanggung susah payah…” [al-Ahqaf 46:15]
- Kesusahan ketika mengandung semakin bertambah selari dengan pembesaran janin. Kesusahan yang semakin bertambah mengakibatkan seorang ibu menanggung kelemahan demi kelemahan: “…ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan…”
- Kesusahan ini mencapai tahap paling berat ketika hendak melahirkan anak tersebut: “…dan telah melahirkannya dengan menanggung susah payah.” Kesusahan ini diungkap oleh Allah dalam kisah Maryam ketika beliau hendak melahirkan ‘Isa:
Berkenaan kesusahan yang amat berat saat hendak melahirkan, Abi Burdah radhiallahu ‘anh pernah melihat Ibn ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dan seorang lelaki dari Yaman sedang tawaf di sekeliling Ka’bah.
Lelaki tersebut sedang mendukung ibunya lalu mengeluh: “Saya baginya bagaikan tunggangan yang hina.”
Lalu dia bertanya: “Wahai Ibn ‘Umar! Apakah sudah aku balas budinya?”
Ibn ‘Umar menjawab: “Tidak! Walaupun setarik nafasnya (yakni ketika ibunya sedang melahirkannya).”[4]
4. Setelah melahirkan, ibu benar-benar memberi perhatian kepada anaknya. Seandainya anaknya tidak
sihat atau hilang sekejap daripada perhatiannya, nescaya dia menjadi bimbang. Apatah lagi jika anaknya dijauhkan daripadanya, seorang ibu akan teramat berdukacita sehingga hatinya menjadi kosong, sehinggalah anaknya dikembalikan kepadanya.
Kenalilah perhatian seorang ibu terhadap anaknya berdasarkan kisah berikut daripada al-Qur’an, ketika Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintah ibu Musa untuk menghanyutkan anaknya (Musa) agar dia (Musa) tidak ditangkap dan dibunuh oleh Fir’aun:
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susukanlah dia; dalam pada itu jika engkau takutkan sesuatu bahaya mengenainya (dari angkara Firaun), maka (letakkanlah dia di dalam peti dan)
lepaskanlah dia ke laut; dan janganlah engkau merasa bimbang dan jangan pula berdukacita; sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan Kami akan melantiknya menjadi salah seorang daripada Rasul-rasul Kami.
Setelah itu dia (Musa) dipungut oleh orang-orang Firaun; kesudahannya dia akan menjadi musuh
dan menyebabkan dukacita bagi mereka; sesungguhnya Firaun dan Haman serta orang-orangnya
adalah golongan yang bersalah.
Dan (ketika melihat kanak-kanak itu) berkatalah isteri Fir’aun:
“(Semoga dia menjadi) cahaya mata bagiku dan bagimu; janganlah kamu membunuhnya;
mudah-mudahan dia berguna kepada kita atau kita jadikan dia anak.”
Padahal mereka tidak menyedari (kesudahannya).
Dan (sepeninggalannya) menjadilah hati ibu Musa kosong; sesungguhnya dia nyaris-nyaris menyatakan perihal anaknya itu dengan berterus-terang jika tidaklah Kami kuatkan hatinya (dengan perasaan sabar dan tenang tenteram), supaya tetaplah dia dari orang-orang yang percaya (akan janji Allah).
Dan berkatalah dia kepada kakak Musa:
“Pergilah cari khabar beritanya.” (Maka pergilah dia) lalu dilihatnya dari jauh
sedang orang ramai tidak menyedarinya.
Dan Kami jadikan dia (Musa) dari mulanya enggan menyusu kepada perempuan-perempuan yang hendak menyusukannya; (melihatkan halnya itu), kakaknya berkata (kepada isteri Fir’aun):
“Mahukah aku tunjukkan kamu kepada penduduk sebuah rumah yang dapat memeliharanya untuk kamu, serta mereka tulus ikhlas kepadanya?”
Maka (dengan jalan itu) Kami kembalikan dia kepada ibunya supaya tenang tenteram hatinya
dan tidak berdukacita (disebabkan bercerai dengannya); dan supaya dia mengetahui bahawa janji Allah (untuk menyelamatkannya) adalah benar; akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui
(yang demikian itu). [Maksud surah al-Qasas 28:7-13]
5. Sekalipun dengan segala pengorbanan ibu daripada saat mengandung hinggalah kepada membesarkan,
seorang anak lazimnya akan lebih cenderung untuk meremehkan ibunya berbanding ayahnya. Faktor penyebab adalah sama ketika menjelaskan bab sebelum ini berkenaan mengapa ibu dikhususkan daripada ayah dalam larangan menderhaka. Sifat kewanitaan seorang ibu yang lemah lembut dan peranannya yang “hanya di rumah” menyebabkan sebahagian anak-anak tidak menghormati ibu mereka dan justeru melecehkan tuntutan berbuat baik kepadanya.
Lima sebab di atas, paling kurang, menjelaskan mengapa Allah dan Rasul-Nya mengkhususkan seorang ibu di atas seorang ayah. Malah hadis yang asal dalam perbincangan ini memberi hak tiga kali ganda lebih besar kepada seorang ibu berbanding seorang ayah. Oleh itu dalam rangka berbuat baik kepada ibubapa, hendaklah kita memberi perhatian dan keutamaan kepada ibu.
Mengambil iktibar daripada kisah para sahabat Rasulullah, seorang lelaki pernah bertanya kepada Ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Saya meminang seorang wanita tetapi dia menolak pinangan aku. Setelah itu datang orang lain meminangnya lalu dia menerimanya. Saya menjadi cemburu kepadanya dan saya membunuhnya. Apakah ada taubat untuk saya?”
Ibn ‘Abbas bertanya: “Apakah ibu kamu masih hidup?”
Dia menjawab: “Tidak.”
Ibn ‘Abbas berkata: “Bertaubatlah kepada Allah dan mendekatlah kepada-Nya semampu mungkin.”
Atha’ bin Yasar (yang hadir sama saat itu) bertanya kepada Ibn ‘Abbas: “Mengapa engkau bertanya kepada lelaki tersebut sama ada ibunya masih hidup?”
Ibn ‘Abbas menjawab: “Saya tidak tahu perbuatan yang paling mendekatkan (seseorang) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan berbakti kepada ibu.”
19 Keistimewaan Wanita Menurut Hadits (ISLAM)
1. Doa wanita itu lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda , ” Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
2. Wanita yang salehah (baik) itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang saleh.
3. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takut akan Allah .Dan orang yang takut akan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah saw di dalam syurga);
5. Barangsiapa membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya) maka pahalanya seperti melakukan amalan bersedekah.Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki.
6. Surga itu di bawah telapak kaki ibu;
7. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab, maka baginya adalah surga.
8. Apabila memanggil akan dirimu dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu.
9. Daripada Aisyah r.a.” Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.
10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutuplah pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari mana saja pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
11. Wanita yang taat pada suaminya, maka semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya serta menjaga salat dan puasanya
12. Aisyah r.a berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab Rasulullah SAW “Suaminya.” ” Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah SAW, “Ibunya.”
13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dikehendaki.
14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam surga terlebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.
17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
18. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
19. Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.
2. Wanita yang salehah (baik) itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang saleh.
3. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takut akan Allah .Dan orang yang takut akan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah saw di dalam syurga);
5. Barangsiapa membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya) maka pahalanya seperti melakukan amalan bersedekah.Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki.
6. Surga itu di bawah telapak kaki ibu;
7. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab, maka baginya adalah surga.
8. Apabila memanggil akan dirimu dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu.
9. Daripada Aisyah r.a.” Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.
10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutuplah pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari mana saja pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
11. Wanita yang taat pada suaminya, maka semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya serta menjaga salat dan puasanya
12. Aisyah r.a berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab Rasulullah SAW “Suaminya.” ” Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah SAW, “Ibunya.”
13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dikehendaki.
14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam surga terlebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.
17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
18. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
19. Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)

